Prabowo memberi hormat, secara militer, kepada Jokowi. Berbalas bungkukan badan mendalam dari Jokowi kepada Prabowo. Memberi hormat dan membungkuk merupakan simbol alami yang memiliki makna sangat kuat. Mari kita kupas makna pertemuan tersebut. Baik atau buruk, perasaan akan menjawabnya secara jujur.
Ulasan branding kali ini akan menyelinap ke balik unsur-unsur simbol dalam pertemuan tersebut. Terutama gestur dan kata-kata, sebagai unsur-unsur yang dominan dari pertemuan tersebut.
Dua satria
Jokowi menyatakan bingung mendapatkan hormat tegap bergaya militer dari Prabowo. Dia segera membungkukkan badan (Tempo.co, 17/10). Gerak ‘hormat’ dan ‘membungkuk’ dari kedua pemimpin bangsa tersebut bukan hasil spontan, namun terkait dengan makna-makna yang telah terbangun dari konteks sosial yang membesarkan mereka.
Sebagaimana ulasan saya dalam Simbol dan makna bahwa setiap individu membangun makna-makna terhadap berbagai simbol yang digunakan untuk interaksi sosial sehari-hari. ‘Menerima dengan tangan kanan’ merupakan simbol gestur yang bermakna kesopanan dan kesantunan. ‘Menggelengkan kepala’ adalah simbol gestur dengan makna penolakan, walaupun bagi orang India menggelangkan kepala bisa bermakna setuju atau senang. ‘Aduhai’ sebagai simbol kata bermakna kasih sayang.
Simbol-simbol tersebut terbangun sesuai konteks sosial masing-masing. Begitu juga simbol gestur ‘Memberi hormat’ dari seorang Prabowo. Dia besar dalam lingkungan militer yang juga membangun simbol-simbol dengan makna khusus. Posisi hormat, tubuh tegap, pandangan lurus, dan telapak tangan miring menempel di kening kanan adalah simbol gestur.
Secara genealogis, posisi menghormat berasal dari adat para ksatria masa lalu di Eropa. Para ksatria memberi makna dari simbol gestur posisi ‘menghormat’ sebagai pengakuan, kesetiaan, menjunjung tinggi martabat, serta kebanggaan terhadap yang dihormati. Ini juga simbol ‘menghormat’ adalah makna satria.
Posisi menghormat Prabowo bisa bermakna sebagai seorang satria yang mengakui Jokowi: menjunjung martabatnya, membanggakannya, dan melindunginya.
Begitu juga Jokowi, lahir dari lingkungan masyarakat sipil, adat Jawa dan pernah hidup di aras bawah. Gestur ‘membungkuk’ pada saat bertemu dengan orang lain dalam interaksi sosial memiliki makna menjunjung tinggi orang lain (nguwongke), tidak mau merasa lebih kuat atau tinggi kedudukannya, serta makna mengasihi.
Posisi membungkuk Jokowi, maka, merupakan simbol yang bermakna menjunjung tinggi Prabowo, tidak merasa lebih hebat (sebagai presiden terpilih) dan mengasihinya sebagai sesama insan bangsa berkomitmen memperjuangkan kebaikan bersama.
Gestur ‘menghormat’ Prabowo dan gestur ‘membungkuk’ Jokowi bisa dirangkum sebagai pertemuan dua satria, dua patriot yang saling meninggikan dan mengasihi demi keutuhan bangsa.
Kata bermakna sehati
Pertemuan antara Prabowo dan Jokowi selama kurang lebih 20 (dua puluh menit) saja. Namun, itu lebih dari cukup bagaimana kata-kata menciptakan simbol yang bermakna sangat besar bagi bangsa ini.
Prabowo mengatakan, “Dengan penuh persahabatan, saya menyampaikan ucapan selamat atas diangkat dan dilantiknya Bapak Jokowi menjadi Presiden RI pada tanggal 20″ (Tempo.co, 17/10). Selain itu, Jokowi dalam pandangan Prabowo adalah patriot bangsa yang memperjuangkan dan mempertahankan NKRI, Pancasila dan UUD 1945.
Kata-kata Prabowo tersebut memberi makna bahwa antara dirinya dan Jokowi berada pada jalan perjuangan yang sama. Mereka sama-sama menyalakan api semangat yang sama.
Jokowi memberi ucapan selamat ulang tahun pada Prabowo. Suasana tampak teduh, nyaman dan selega cakrawala tanpa awan hitam. Prabowo sempat bercanda ala Indonesia “Tapi jangan sebut usianya berapa ya”.
Akibat pertemuan tersebut, gestur dan kata-kata Prabowo-Jokowi, Rupiah langsung melesat kuat terhadap dollar Amerika.
Kedua pemimpin tersebut secara sukses melakukan branding alami berbasis pada kualitas, kecintaan, dan penghormatan. Nah, pertemuan tersebut kenyataannya memiliki makna bahwa Prabowo dan Jokowi adalah sehati.
Indonesia sehati. -Sang Chef- (Novri Susan)