Ia berjalan tergopoh, sudah tidak tegak lagi. Langkahnya satu-satu dan goyah. Matahari yang matang pada pukul 12.45 waktu Indonesia tengah memburai sinar terik, dan memukul daya tahan tubuh. Namun, nenek itu tidak mengalah, dia menegarkan raga yang sudah keriput. Bekerja dan hidup. Ini tentang seorang perempuan menua pada tubuhnya, namun menyala-nyala pantang renta. Saya menjadi saksi, ruhnya adalah ksatria yang tidak runtuh di medan laga.
Waktu itu saya sedang menuju makan siang, di Sanur Bali. Bersama para akademisi, ilmuwan multi disiplin, dalam kelompok Sustain Society yang menyelenggarakan konferensi internasional tentang Sustainable Future for Human Security. Makan siang di antara pekerjaan berlapis-lapis adalah kegiatan yang menyenangkan, tentu saja.
Ketika para kolega menuju tempat makan, saya tidak beranjak. Saya melihat jiwa yang secadas batu karang, tegar dan kuasa di hadapan gelombang-gelombang kehidupan yang keras tak peduli. Beberapa saat rongga dada terasa sesak, nafas terasa tersumbat. Saya memang terharu, namun lebih terasa malu. Selama ini dengan tubuh muda, keluhan demi keluhan, malas berlarut-larut, selalu merasa paling tidak beruntung. Selalu merasa diadili secara buruk oleh nasib. Berhadapan dengan nenek itu, tiba-tiba selama ini jiwa terasa renta.
Mereka yang menjadi manusia Indonesia, tidak sedikit yang telah renta jiwanya walaupun muda tubuhnya. Kedua tangan menggantung pada nasib dan belas kasihan. Padahal kaki masih kokoh untuk berjalan, dan kesehatan cukup untuk berjuang.
Saya sempatkan memfoto nenek berbaju hijau tersebut, kedua tangannya membawa satu sisir pisang dan sebungkus mangga untuk dijajakan pada para pelancong di pulau dewata ini. Sobats, saya ingin mengabarkan tentangnya yang bukan sekedar seorang nenek tua sedang berdagang. Lebih dari itu, ini tentang mental pejuang kehidupan. Mental adalah susunan keyakinan, keberanian, keteguhan dan pandangan ke depan yang harus direalisasikan.
Sobats, sekedar hidup mungkin bisa dilakoni. Akan tetapi menatah hidup agar menjadi dunia yang megah, mulia dan indah selalu membutuhkan mental pejuang. Seperti nenek dalam perjalanan saya ini, dia telah memberikan mata cahaya bagi hati yang remang oleh keputusasaan. Bagi saya, sobats. (sang chef Novri Susan)


